Verifikasi Tanda Tangan Asli Atau Palsu Berdasarkan Sifat Keacakan (Entropy)

Pada perkembangan teknologi yang cukup pesat ini keamanan menjadi kebutuhan manusia yang tidak bisa dilepaskan. Baik keamanan untuk dirinya sendiri maupun keamanan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, sepeti dokumen-dokumen legal dan penting. Salah satu bentuk sistem keamanan tersebut adalah dengan menerapkan sistem pengenalan identitas. Salah satu tanda identitas adalah menggunakan sistem biometrika. Terdapat dua jenis biometrika yaitu biometrika fisik dan perilaku. Salah satu bentuk biometrika perilaku adalah tanda tangan.
Sistem biometrika dapat melakukan dua tugas, yaitu verifikasi dan identifikasi. Verifikasi tanda tangan berarti memeriksa apakah tanda tangan tersebut adalah milik orang yang sudah terdaftar atau tidak, serta memeriksa apakah tanda tangan tersebut asli atau palsu. Sedangkan identifikasi merupakan tanda identitas diri atau penetapan identitas seseorang. Dalam hal ini identifikasinya menggunakan tanda tangan. Tanda tangan merupakan sesuatu yang lazim untuk menunjukkan identifikasi atau tanda identitas diri seseorang. Tanda tangan juga merupakan tanda pengesahan dari suatu berkas dokumen.
Jika ingin mengetahui lebih lengkap terkait karya tulis ilmiah diatas silahkan klik link dibawah ini. http://ejournal.st3telkom.ac.id/index.php/infotel/issue/view/17

Mengenal Ilmu Digital Forensics

Ilustrasi Digital ForensicsSeiring dengan kemajuan teknologi digital. Banyak kasus-kasus yang dilakukan pada dunia maya seperti pencemaran nama baik via e-mail, pembobolan kartu kredit via online, serangan situs-situs tertentu. Atau semacam kasus sejumlah situs e-commerce mendadak tidak dapat melakukan transaksi pembayaran karena ada pihak yang melakukan gangguan dengan cara mengirimkan virus tertentu sehingga pemilik perdagangan di internet tersebut rugi milyaran rupiah karena tidak terjadinya transaksi selama kurang lebih seminggu. Dari beberapa contoh kejahatan yang dilakukan didunia maya. Dan bagi orang-orang yang merasa dirugikan dalam aktivitas didunia maya, paling tidak harus melakukan 3 (tiga) hal utama :

1. Mencari bukti-bukti yang cukup dan relevan agar dapat ditangani oleh pihak berwenang untuk memulai proses penyelidikan dan penyidikan, misalnya polisi di unit cyber crime;
2. Memastikan bahwa bukti tersebut benar-benar valid dan berkualitas untuk dapat dijadikan alat bukti di pengadilan yang sah sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
3. Memperlihatkan keabsahan alat atau barang bukti tersebut sesuai dengan terjadinya kasus di atas di muka hakim, pengacara, dan tim pembela tersangka.

Oleh karena itulah dalam ilmu kriminal dikenal istilah forensik, tujuannya untuk membantu pengungkapan suatu kejahatan melalui pengungkapan bukti-bukti yang sah menurut undang-undang dan peraturan yang berlaku. Sesuai dengan kemajuan jaman, berbagai tindakan kejahatan dan kriminal modern sekarang  ini melibatkan secara langsung maupun tidak langsung teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan komputer, telepon genggam, PDA, email, internet, website, dan lain-lain secara luas dan masif telah mengundang berbagai pihak untuk melakukan kejahatan berbasis teknologi elektronik dan digital. Oleh karena itulah muncul adanya ilmu “digital forensics”, yang selalu dibutuhkan dan digunakan para penegak hukum dalam usahanya untuk mengungkapkan peristiwa kejahatan melalui pengungkapan bukti-bukti berbasis entitas atau piranti digital dan elektronik.

Kejahatan dunia maya seperti ini dapat tertangani dengan mengaplikasikan ilmu digital forensics. Ilmu digital forensics dapat digunakan untuk  mengungkap sebuah kasus, mendapatkan alat bukti berupa data digital sehingga dapat dipergunakan di ranah pengadilan. Digital forensics dapat juga digunakan untuk proses audit dalam lembaga atau perusahaan. Menurut seorang pakar Ruby Alamsyah istilah digital forensics adalah ilmu yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di ranah pengadilan. Barang bukti digital tersebut seperti handphone, notebook, server, PC.  Atau seperangkat alat teknologi apapun yang mempunyai media penyimpanan dan dapat dianalisa. Sedangkan bukti data digital forensicsnya seperti e-mail, alamat e-mail, wordprosessor/speadsheed files, souce code dari perangkat lunak, file dalam bentuk (.jpeg, tiff, png, .pdf), web browser bookmarks, cookies. Berdasarkan jenisnya  ilmu digital forensics dibagi menjadi 4 (empat) antara lain.

a. Computer Forensics

Ruang lingkup computer forensics sebatas pada peralatan komputer. Tujuan aktivitas dari komputer forensics adalah untuk menjelaskan mengenai jejak atau status dari perangkat digital, sistem komputer, media penyimpanan atau dokumen elektronik.

b. Mobile Device Forensics

Mobile device forensics merupakan cabang ilmu dari digital forensics yang berkaitan dengan pemulihan barang bukti digital atau data dari perangkat mobile seperti handphone, PDA, GPS dan computer tablet.

c. Network Forensics

Network forensics berkonsentrasi pada monitoring dan analisa trafik  data pada jaringan computer, baik local maupun WAN/Internet, untuk mendapatkan informasi, eviden collection atau deteksi serangan.

d. Database Forensics

Database forensics merupakan cabang dari digital forensics yang mempelajari aktivitas database dan metadatanya. Investigasi dijalankan menggunakan kontent dari database, log files, dan pada data RAM untuk membangun suatu informasi yang berkaitan untuk direcover.