Mengenal “Sampah” Informasi di Dunia Maya

Ilustrasi sampah informasi_2Semakin maraknya penggunaan internet dan media sosial menjadikan Indonesia sebagai negara yang berpotensi banyak menerima informasi yang ada didunia maya atau internet. Informasi ini ada yang bermanfaat bagi masyarakat dan ada juga yang tidak bermanfaat. Infromasi yang tidak bermanfaat bisa didefinisikan sebagai sampah informasi didunia maya. Semakin banyak informasi yang kita peroleh dari berbagai sumber diantaranya dari tv, radio, media cetak dan situs-situs didunia maya. Sadar atau tidak sadar masyarakat indonesai sudah terbiasa dimanjakan dengan informasi. Namun, justru inilah yang dapat dimanfaatkan pelaku bisnis media informasi untuk menarik para konsumen dengan menyajikan berita secepatnya dengan judul yang menjual dan terkesan provokatif tanpa diimbangi dengan konten yang berkualitas dan sumber referensi yang  jelas. Sehingga informasi yang disampaikan ke masyarakat terkesan tidak bermanfaat atau semacam informasi sampah. Menurut data asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia tahun 2014. Ada 88 juta pengguna internet di Indonesia. Ada berbagai macam sampah yang ada dunia maya seperti sampah email,  sampah sms, sampah di bbm atau wa, sampah berita atau informasi, virus merugikan didunia maya yang kategorinya termasuk sampah. Sampah informasi merupakan sampah yang kebenarannya masih dipertanyakan atau tidak ada dasar yang dijadikan acuan atau referensi.

Melalui media sms di handpone juga sering dapat informasi pesan atau ajakan sesaat. Email juga demikian, adanya kiriman e-mail untuk ajakan berbisnis yang kurang masuk akal atau ajakan berkencan sampai pada ajakan mengambil uang hasil warisan melalui media bank tertentu yang belakangan pasti menipu dan ujung-ujungnya pencucian uang. Yang seperti ini bagi pengguna internet termasuk sampah informasi. Sekarang ini kita sedang memasuki dunia maya yang semakin terbuka dan informasi beredar begitu cepat, termasuk sms, bbm, media sosial (facebook)  dan media lainnya. Jika kita adalah orang biasa, apakah perlu setiap detik, menit atau jam kita mengecek hand phone atau perangkat elektronik (smartphone) kita yang terus terhubung dengan internet ?  Dalam situasi di mana sampah bertebaran di dunia maya, maka semakin kita bergaul di dunia sana, kita diharapkan semakin selektif terhadap informasi yang beredar. Adakalanya kita juga seringkali menghabiskan waktu untuk memilah dan memilih informasi mana yang berguna dan tidak berguna. Untuk kepentingan pribadi tidak ada yang bisa melarang seseorang mau memegang handpone seharian atau tidak. Tetapi sebagai bangsa yang produktif akan sia-sia jika sebagian waktu dihabiskan di dunia maya, terutama bagi rekan-rekan yang bekerja tanpa internetpun bisa. Secara keseluruhan, berapa banyak orang yang menggunakan handpone untuk kegiatan sia-sia di kantor, sekolah, pabrik yang dapat menurunkan produktivitas dan berpotensi menciptakan ketidakperdulian pada lingkungan sekitar. Ditambah lagi secara umum masyarakat Indonesia cenderung berbagi informasi secara berlebihan. Mengunggah semua informasi ke internet, mulai dari hal yang bersifat pribadi hingga sesuatu yang sepertinya tidak pantas ditampilkan di dunia maya.

Akibatnya informasi yang ada di dunia maya jadi bertambah banyak dan melimpah. Informasi yang tergolong tidak berguna yang bisa menjadikan sampah di dunia maya. Data informasi seperti keterangan pribadi hendaknya tidak diunggah secara bebas di dunia maya. Begitu juga data perusahaan, institusi pendidikan ataupun pemerintah yang sifatnya sensitif. Namun data informasi yang sifatnya publik bisa diunggah secara bebas dan dapat dikelola secara transparan dan baik. Pengelolaan data informasi yang sifatnya publik ini bisa mencerminkan niat baik, kemauan, kejujuran dari pemerintah untuk mendengar saran dan kritikan dari masyarakat. Jika semua masyarakat Indonesia dapat memiliki akses dan mereka yang ada di daerah terpencil dapat mengetahui dan memberikan informasi langsung ke publik. Tentunya ini merupakan keberlangsungan demokrasi yang bagus di era digital yang selalu berkembang di dunia maya.

Peran institusi pendidikan khususnya sekolah tinggi, univeritas, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat serta publik harus proaktif dalam proses belajar etika berteknologi. Sehingga informasi yang ada di dunia maya memiliki manfaat dan tidak disebut sebagai informasi sampah atau informasi yang sudah usang. Ketika etika teknologi dalam dunia informasi sudah dipahami oleh masyarakat Indonesia maka dalam memberikan atau menggunggah informasi di dunia maya pun bisa lebih baik lagi. Sehingga informasi yang ada di dunia maya bisa berkualitas disertai dengan fakta atau referensi sebagai dasar acuan.